Maaf Mak, Aku Lebih Memilih Ayat-ayatNya

Maaf Mak, Aku Lebih Memilih Ayat-ayatNya

Maaf Mak, Aku Lebih Memilih Ayat-ayatNya
“mbak kesini” lambainya padaku, seketika itu ku bimbing langkah, mendatanginya, tak enak karena orang tuanya sedari tadi sudah mengawasi kedatanganku.

Ku raih tangan ibunya yang terulur, bersalaman dan duduk di samping gadis yang baru saja berseru namaku, ibunya berada di hadapanku. Kepada ayahnya yang duduk agak ke kiri dari si ibu, aku hanya mengangguk sebagai tanda penghormatan, tak lupa ku sunggingkan senyum, sebagai sapaan ramah pada mereka, mungkin aku dipanggil untuk dikenalkan, ternyata kedua orangtua gadis yang memanggilku tadi tampak masih muda, baik ibu ataupun ayahnya, oh ya maklum saja, Risa (nama samaran) adalah anak pertama dari mereka, dan masih kelas 1 SMA.

Sekali lagi aku tersenyum seraya berbasa basi, bertanya kalian bapak ibunya risa? Mereka hanya mengangguk dan berkata nggeh, selebihnya belum ada kalimat yang menyusul, hanya pancaran mata yang berbicara, bahwa sedang ada sesuatu yang melanda, aku terdiam kaku, senyumku tak terbalas, responnya biasa saja, tidak biasanya aku menghadapi wali santri dengan sikap seperti ini, sejauh ini wali santri yang bertegur sapa denganku bisanya menampakkan wajah bahagia dan sumringah. Bingung, perasaanku tidak enak, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,  disampingku Risa dan temannya duduk tertunduk,  kilatan berbeda di mata ibunya begitu terbaca, itu bukan ekspresi berbinar karena telah bertemu putrinya, namun sebaliknya, tampak putus asa.

“ada apa bu?” ku coba membuka suara, memecahkan kekakuan yang tercipta. Aku masih lengkap mengenakan mukenah, tadi baru turun dari masjd, jama’ah isya’, terpaksa berhenti karena ada yang memanggil, kini aku duduk di tengah-tengah mereka, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya, ku tengok Risa, ia hanya tertunduk, ada apa? Pandanganku beralih pada ibunya. Raut wajahnya juga tak bisa dibohongi.
“kamu pengurusnya?” tanyanya padaku, aku mengangguk dan berkata nggeh, meski sejujurnya saja pertanyaan demikian membuatku tidak nyaman, kata-kata pengurus menggelitik pendengaran, serasa membebani pundakku dengan berbagai amanah.
“iniloh mbak, dia itu punya masalah, tapi gak tahu apa, minta boyong, ayo Ris ceritakan saja ke mbak pengurus ini, apa sebenarnya masalahmu, mumpung ada mabknya” sambungnya berterus terang, mata ibu itu sengaja tak menatap mataku, mungkin ia khawatir aku terganggu dengan pemandangan dibaliknya yang sedang menyiratkan rasa kecewa.

Mendengar hal itu, aku tak terlalu terkejut, namun sedikit menyayangkan Risa karena dengan mudah mengucapkan keinginan itu dihadapan orang tuanya, tak bisa di pungkiri keinginan untuk boyong memang tak jarang terlintas di benak santri, termasuk aku sendiri, saat masalah melanda dan terasa begitu penat menanggungnya, saat itulah teriakan kecil menghiasi dada, bagaimana jika aku boyong saja, namun untukku, itu sebatas gumaman hati, selebihnya aku akan befikir lebih panjang lagi untuk masa depan dan mempertimbangkan segalanya. Aku tahu Risa sedang ada masalah, tapi bagaimana mungkin dia memutuskan dengan cara seperti ini?

“Loh kenapa bu?” tanyaku tak sabar.
Ku tatap Risa, ia masih seperti semula, tertunduk, ayahnya yang berada agak jauh dari kami jadi ikut bersuara dan mendesak Risa dengan bahasa maduranya, ia menyuruh Risa segera mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dan memicu ia berbuat demikian.

Lengang, ibunya menarik nafas dalam, terlihat semakin lara.

“saya mau pulang mbak, sudah malam, tapi ini gimana, dia masih ada masalah, saya kan gak enak, kemarin itu dia pulang tanpa izin ke rumah, padahal rumah saya jauh lo mbak, gak tahu nih anak saya kok tiba-tiba begitu” ungkapnya, dengan perasaan yang tampak tertahan. Ia terlihat benar-benar kecewa, air mata dan kemarahan, seperti tersendat membuat penglihatannya sedikit merah namun berair. Mendengar hal itu, sepertinya aku di tahan untuk tidak pergi dulu sebelum menemukan jalan keluarnya.

Sepintas, bayang ayat-ayat suciNya melintas di benakku, ku rasa hari ini aku belum bisa menyetorkannya, tak lama lagi setoran akan berakhir, ya sudahlah, masalah ini penting untuk mereka. Kalau boleh, sebenarnya aku hanya berniat mampir sebentar, bercakap-cakap sejenak lalu pergi melanjutkan aktifitas lain, tapi bagaimana lagi, ternyata ada sebuah permasalahan yang datang dari Risa. Apa lagi? Batinku, Ku urungkan niat untuk undur diri dari hadapan mereka, berharap sebentar lagi semuanya akan baik-baik saja.

“dia ingin pulang mbak, gimana gak papa mbak saya bawa pulang dulu?”
Aku terdiam sejenak, mencari solusi yang tepat, masalah seperti ini sudah sering kali terjadi.
“kalau pulang, khawatirnya nanti gak mau kembali bu”
“lah itu, kayaknya pasti gak mau kembali”
“gimana kalau ibu tinggal saja Risa, nanti ibu dan bapak pulangnya terlalu larut, biar Risa, nanti saya yang urus” Ku ungkapkan dengan mantap, siap-siap ketika aku sudah berkata seperti ini santri yang minta boyong pasti bereaksi sama.
“tidak, jangan pulang, pokoknya Risa ikut pulang”  

akhirnya bersuara juga, meski penuh isak, aku tak mengerti apa sebenarnya yang menjadi alasan kuat anak ini untuk berhenti di tengah jalan, padahal ia baru saja menapak pendidikan tingkat SLTA, Madrasah Diniah dan al-Qur’annya juga masih dalam proses, sungguh sangat sayang sekali jika perjuangan itu harus terhenti disitu saja, tak bisa ku gambarkan bagaimana dalamnya orang tua menahan perasaan, mengingat siang malam ia berjuang mencari nafkah hanya demi kenyamanan anaknya dalam menempuh pendidikan, jujur saja, jika posisiku sebagai orang tua Risa, aku pun amat sangat kecewa dengan keputusannya yang mendadak.

“aku pingin boyong mak” teriaknya lagi, meski teriakan itu terdengar lirih, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.
“Kok bisa kau minta boyong sekarang nak? Kau mondok sudah hampir empat tahun, kasep, kok gak dulu-dulu aja waktu masih baru minta boyong, sekarang sudah kelas satu SMA malah minta boyong, mbok ya nunggu lulus SMA aja, nanti terserah wis kemana, ingat ibu sama ayah pontang-panting cari uang untuk membiayaimu, kok bisa kau memutuskan boyong, gak mikir perasaan mak bapak ta? Sudah besar bukannya tambah dewasa malah tambah seperti anak kecil, owalah nak”

Risa tunduk terdiam, aku tahu karakter anak itu, ia anak baik, ia anak yang sadar, semua yang diucapkan orangtuanya itu tak mungkin terlewat dari perenungannya, aku yakin ada alasan yang telah menguhkan pendiriannya hingga demikian, tapi apa?  Apa hanya karena masalah yang kemarin menimpanya? Ia keluar tanpa izin dan harus di takzir, mungkinkah karena itu? Entahlah, apapun alasannya keputusan Risa untuk boyong membuatku tak habis pikir.

“mungkin Risa sedang jenuh bu, ibu dan bapak pulang saja tidak apa-apa, biar nanti Risa saya nasehatin” ucapku menengahi, biasanya anak yang sedang frustasi modelnya memang seperti ini, bawaanya ingin boyong, padahal itu hanya karena perasaannya masih labil, jika sudah di tinggal pulang orang tuanya, lama-lama ya diam sendiri dan bercengkrama lagi dengan teman-temannya yang lain, lupa kalau baru kemarin minta boyong, ku rasa kasus Risapun demikian, anak ini hanya perlu menenangkan diri sejenak, aku bertekad nanti saat keadaannya membaik akan ku nasehati ia seperti hari-hari biasanya, saat matanya berbinar menerima segala nasihat dan ceritaku, ada semangat kebaikan membara disana, itulah sebabnya aku tak habis pikir jika Risa memilih jalan boyong untuk menyelesaikan masalahnya.

“Tidak mak, aku ingin pulang, aku ikut kamu” pintanya terisak, ayahnya menatap tajam, terlihat lelah dengan sikap putrinya, aku bisa memahami perasaan mereka.
Melihat pemandangan itu, aku tak tahan, aku ingin mengembalikan Risa seperti semula, ingin segera menyadarkannya, aku sangat mengenalnya, bahkan dekat dengannya, ku sentuh bahu Risa, berisyarat agar ia mengungkapkan segalanya padaku. Ia menoleh menatap ke arahku.

“Ada apa sebenarnya Risa, kenapa kamu seperti ini?” kulirihkan suara untuk menyentuh perasaan dan mengetahui alasannya.
“Risa ingin pindah pondok mbak, Risa ingin pindah ke pondok al-Qur’an yang salaf, Risa disini orangnya mudah ikut-ikutan teman, Risa ingin tenang menghafalkan al-Qur’an, kalau disini saat berada di sekolah hafalan Risa buyar, Risa hanya ingin menjadi orang yang lebih baik mbak, Risa mudah ikut teman, padahal temen Risa ada yang kurang baik, Risa bukan orang yang kuat, Risa hanya perlu pindah ke pondok yang ketat, Risa hanya ingin menjadi orang baik, bisa mendoakan orang tua dan benar-benar fokus menghafalkan al-Qur’an, Risa sudah mantap memutuskan untuk meninggalkan sekolah dan memilih al-Qur’an "

Air mata menetes deras di sela-sela ia berkata, aku tersenyum, sudah ku bilang, Risa anak baik, aku tahu anak ini sadar, anak ini punya alasan kuat dengan keputusannya, ia bukan anak yang tidak mengerti susahnya orang tua, namun ia hanya ingin mengambil langkah terbaik saat melihat kondisi dirinya. Memang di pondok ini, sekolah bercampur antara laki-laki dan perempuan namun tetap disertai aturan, karena disini juga menerima pihak luar yang ingin mengenyam pendidikan formal, seorang santri harus dituntut tidak terpengaruh dan kuat menghadapi pergaulan yang semakin tidak karuan, dan Risa ia menyadari kekurangannya yang sulit untuk menolak ajakan teman. Jadilah, ia memilih untuk pindah ke pondok yang ketat agar bisa menjaga dirinya, subhanallah, seketika itu perasaanku kembali ringan, selesai berucap Risa bersandar di pundakku, sepertinya ia lelah, aku merengkuhnya bangga namun juga sedih karena harus berpisah dengan anak baik yang selalu menyapa dan antusias mendengar ceritaku.

Ku sampaikan pada ibunya, apa yang telah Risa sampaikan padaku barusan, ringannya perasaan mendukung mulutku lancar mengungkapkan aksara, mendengar hal itu orang tuanya sedikit meluruh, mungkin kemarahannya sedikit menguap dengan alasan putrinya, meski tak bisa dipungkiri orang tuanya masih berharap agar Risa tetap menamatkan SMAnya.

“kau yakin dengan keputusanmu ini?” tanyaku beberapa waktu kemudian setelah ia mendapatkan izin untuk pulang, kebetulah aku berhenti sejenak untuk bertanya, membiarkan ibunya mendahului pergi ke tempat semula, tempat kami duduk-duduk tadi, tempat pengiriman.

“ia mbak Risa yakin” jawabnya mantap bahkan senyum di wajahnya nampak begitu sumringah.
“gak nunggu lulus SMA dulu? Kan sayang lo..”
“tidak mbak, khwatir nanti aku tambah nakal, aku ingin jadi orang  baik mbak”
“sekarang itu perlu lo,, dapat dunia dan akhiratnya, kalau nanti kamu gak sekolah gimana?”
“Risa yakin dengan ucapan ustadz Risa, katanya orang yang hafal al-Qur’an di jamin oleh Allah tidak akan melarat, aku percaya itu, untuk profesi Risa bisa jahit mbak, nanti Risa bisa menekuni hal itu”
“ya sudah kalau begitu” Aku sudah tak membujuknya lagi, pertahanannya sangat kuat, sekali lagi, aku hanya bisa bergumam bangga dengan keputusan besarnya. Ia telah merencanakannya dengan matang.

Kami berpelukan, tanpa kata, aku tersenyum mengantarnya pulang, dalam hati ku berdo’a, semoga niat mulia anak ini diberikan kemudahan dan kelancaran oleh Allah SWT, semoga apa yang dicita-citakannya untuk menjadi orang yang mulia melalui kalamNya terlaksana, semoga Allah menjaganya. Aamiin Ya Robbal Alamin.
Suatu saat, aku berharap bisa menjumpainya kembali. Risa.



12 komentar

3/30/2017

bagus cerita nya gan

Reply
avatar
3/30/2017

makasih gan :)

Reply
avatar
3/31/2017

Wah hebat, terus berkarya ya

Reply
avatar
3/31/2017

Setelah merantau untuk menghafalkan Al-Qur'an.
Lebih bijak, mendalami keilmuan tafsir di Universitas Yudharta Pasuruan. ��

Reply
avatar
4/01/2017

Oke. Insayaallah. makasih dukungannya :)

Reply
avatar
4/03/2017

Menurut saya ini bacaan yang menarik. Karena saya non muslim jadinya ini bacaan yang baru buat saya dan tidak banyak bertele tele . Overall bagus

Reply
avatar
4/03/2017

makasih gan :)

Reply
avatar
5/01/2017

Langka bnget emang anak" yg brfikiran sprti risa.
Anak jaman skrang kalo mondok itu kbnyakan niatnya skolah sambil mondok.

Reply
avatar
5/07/2017

nggeh betul sekali. :)

Reply
avatar
6/03/2017

yes, terimakasih :)

Reply
avatar
11/06/2019

Ahlul Qur'an Insya Allah,

Reply
avatar


View MoreHOTTEST ARTICLES