Ku
tak percaya hari kelahiran katanya bisa menentukan nasib seseorang, tentang
kesedihan dan kebahagiaan, ada
yang bilang bisa dikaitkan dengannya, entah dari
mana mitos seperti itu berawal, yang jelas ku ingat ada sebagian kelompok orang
yang mengatakannya, entah siapa, aku benar-benar lupa, dan yakinku itu dari desa.
Hari
ini adalah hari Jum’at hari kelahiranku, meski tak tahu apakah hari ini sesuai
dengan weton atau tidak, Jum’at pon tepatnya. Bertepatan dengan hari ini mataku
sedikit sembab, tenggorokan terasa
sedikit serak, rasanya kasar dan tidak nyaman digunakan berdehem atau menelan sesuatu,
termasuk bersin, hal reflek yang aku sukai, untuk sementara tidak, aku ingin sejenak beristirahat dari
aktifitas tenggorokan.
Hari Jum’at tidaklah salah, aku tipe orang
yang tidak begitu
percaya mitos,
sudah ada al-Qur’an dan Hadist, petunjuk sejati yang dapat membimbing kita memperoleh
pelajaran yang sebenar-benarnya sekaligus menjadi pedoman hidup. Kenapa juga harus percaya hal-hal
tahayul yang tiada berdasar?
Sedari tadi sudah ada catatan
yang kerap menyusup ujung hati dan menggelitiknya untuk mengeluarkan air mata,
kadang terasa nyeri,
tapi ini nyeri yang berbeda, aneh, aku
menjadi begitu sensitive terhadap
yang berkaitan dengan perasaan.
Baiklah
akan kuceritakan satu hal yang mengganjal dan ikut andil menjadi penyebab
kesedihanku. Mungkin bagi sebagian orang ini masalah sepele, bahkan teramat
sepele, namun tidak bagiku yang masih belum baik mengontrol emosi, yang memang
begitu sensitive jika harus berhadapan dengan hati.
Aku
mempunyai seseorang, entah berdasar dari apakah aku mulai berani mengatakan
rasa punya, malam tadi sekitar jam 22.30, ia berpamitan untuk istirahat lebih
dahulu, tentunya melalui sebuah sms, tidak secara langsung karena kami tidak
pernah mengadakan pertemuan sekedar memanjakan perasaan, kecuali jika memang keperluan
mendesak, dan itupun tak bisa leluasa, hanya sebentar.
Masih
terekam saat ia mengatakan dirinya tertidur waktu membalas pesan, hingga ku
perkenankan ia memasuki ruang mimpi, meski jauh di dasar hati, aku tak rela
jika harus ditinggal sendiri. Tapi
begitulah, aku tetap akan mengalahkan rasa manja yang meruang, meski rasanya
tak begitu sedap, meski terkesan kurang
ikhlas, tak apalah, mencoba untuk menerima
keputusannya, dan tanpa ku perintah sesuatu dibalik rusuk merangsang kembali,
kesensitifan mulai menyentuh rasa, membuahkan tetesan bening
di pelupuk, meski tak sempat berkejaran, karena memang sengaja diseka. Ku
yakinkan diri, tak seharusnya
aku berlebihan seperti itu. Rasa syukur
atas kasih yang telah Allah titipkan padanya menjadi pengalih perasaan.
Dan
entah mengapa ternyata tak
semudah itu mengikhlaskan, hatiku masih bergejolak, seakan haus rasa kasih dan
pertemanan yang nyaman, terbuai oleh suguhan yang selalu diberikan, namun
tampaknya kali ini ia memilih berlalu bersama dunia bawah sadar. Sebagai wanita
kupandangi diri, terasa miris mendapatinya
bagai pengembara yang haus kasih, semakin diresapi, semakin nyeri,
aku tak yakin bisa mengajari diri sendiri menjadi lebih kuat dan mandiri
setelah menceburkan hati
di kedalaman perasaannya.
Hasrat
hati tak ingin
mempermasalahkan, melepasnya tanpa rasa berat dan bisa berlapangdada, kenyataannya tak mudah, dikala
seperti itu, rasanya
begitu sempit, seperti pengajuan keadilan yang belum
terpenuhi, aku menuntut namun tak tahu apa hal itu perlu dihakimi. Mula fikiran menerawang kembali,
membayangkan bagaimana ketika posisiku
berada diposisinya, ternyata sejauh ini, aku lebih memilih bersamanya, tak peduli ketika sakit maupun mengantuk, rasa sayang mengalahkan kebutuhan fisik, tak
jarang rasa sakit yang singgah di perut datang dan menyarankan untuk
beristirahat, namun ku tepis hal itu, bungkam, aku diam dari rasa sakit yang
mengganggu, memilih berkomunikasi dengannya, entahlah bagaimana dengannya,,
Seperti
pengadilan, fikiran merangkai aksara yang meruam dalam dada, tuntutan-tuntutan
untuk saling seimbang mengusik pola nalar, aku bertanya mengapa ia tidak
menengok sama sekali perasaan berat yang masih bertumpu. Ku sadar, tak
seharusnya masalah sepele ini dipermasalahkan, seakan tidak ada yang lebih
penting, padahal masih banyak hal yang lebih pantas untuk diperhatikan, tapi
apalah daya, perasaan adalah hal
yang paling berperan terhadap suasana hati, dan ia menguasainya, seperti dzikir
yang tak pernah kusengaja namun kerap merebak di jiwa. Akankah tidak begitu
penting jika hal itu seakan memberikan kesimpulan bahwa rasa kasihku masih
lebih besar dari rasa sayangnya? Sementara aku wanita.
Kini
ku tengok diri yang tercipta sebagai hawa,
wanita yang hanya serpihan tulang rusuk sang pria, terasa sedikit sesak jika
benar rasa sayangnya tak lebih besar, meski banyak rasa yang telah terurai, kata manis yang
telah ia suguhkan, segalanya jadi temaram, sekadar kata yang mudah berlalu dan
mungkin tak kan sepenuhnya sanggup menggambarkan perasaan.
Hanya
saja ku seorang wanita, mungkin jika
ditakdirkan sebagai seorang pria, selain rasa sayang
yang benar-benar meliputi diri, kecenderungan untuk mementingkan kebersamaan
dengannya akan
lebih ku pilih. Tapi ia, entahlah mungkin hanya prasangka saja atau aku lah yang memang berlebihan.
Baiklah,
tak kan kubiarkan hati ini menangis karena praduga demikian. Bila Allah
menakdirkan kadar cinta sebatas itu, apalahdaya, meski terasa kurang bernyawa,
ku harus memaklumi keadaan, mencoba berfikir lebih luas dan dewasa.
Akhirnya, ku sadar setiap yang menghampiri, entah masalah atau apapun bentuknya
tergantung bagaimana individu itu menanggapinya, seperti yang terjadi saat ini,
mungkin saja masalah ini terlihat begitu kecil bahkan sangat remeh, namun bisa juga
masalah ini menjadi
masalah yang patut diperhatikan. Mungkin kali ini ku melihatnya dari sisi yang
tidak remeh, sehingga penanggapan atau penyikapannya begitu sempit dan menyesakkan. Maafkan mungkin tak seharusnya ku
memandang dengan kacamata demikian. Dan
akhirnya, Ku harap kasih itu juga sama besarnya untukku. Terimakasih
atas segalanya.

4 komentar
nice artikel
Replythank's ^_^
Reply|o||o||o||o||o||o||o||o||o||o|
Replygalau sangat =( =(
hahaha. iyakah ?? :D
Replymakasih komennya :)