Remehkah Ini?

Remehkah Ini?

Remehkah Ini?
Ku tak percaya hari kelahiran katanya bisa menentukan nasib seseorang, tentang kesedihan dan kebahagiaan, ada yang bilang bisa dikaitkan dengannya, entah dari mana mitos seperti itu berawal, yang jelas ku ingat ada sebagian kelompok orang yang mengatakannya, entah siapa, aku benar-benar lupa, dan yakinku itu dari desa.

Hari ini adalah hari Jum’at hari kelahiranku, meski tak tahu apakah hari ini sesuai dengan weton atau tidak, Jum’at pon tepatnya. Bertepatan dengan hari ini mataku sedikit sembab, tenggorokan terasa sedikit serak, rasanya kasar dan tidak nyaman digunakan berdehem atau menelan sesuatu, termasuk bersin, hal reflek yang aku sukai, untuk sementara tidak, aku ingin sejenak beristirahat dari aktifitas tenggorokan.

Hari Jum’at tidaklah salah, aku tipe orang yang tidak begitu percaya mitos, sudah ada al-Qur’an dan Hadist, petunjuk sejati yang dapat membimbing kita memperoleh pelajaran yang sebenar-benarnya sekaligus menjadi pedoman hidup. Kenapa juga harus percaya hal-hal tahayul yang tiada berdasar?

Sedari tadi sudah ada catatan yang kerap menyusup ujung hati dan menggelitiknya untuk mengeluarkan air mata, kadang terasa nyeri, tapi ini nyeri yang berbeda, aneh, aku menjadi begitu sensitive terhadap yang berkaitan dengan perasaan.

Baiklah akan kuceritakan satu hal yang mengganjal dan ikut andil menjadi penyebab kesedihanku. Mungkin bagi sebagian orang ini masalah sepele, bahkan teramat sepele, namun tidak bagiku yang masih belum baik mengontrol emosi, yang memang begitu sensitive jika harus berhadapan dengan hati.

Aku mempunyai seseorang, entah berdasar dari apakah aku mulai berani mengatakan rasa punya, malam tadi sekitar jam 22.30, ia berpamitan untuk istirahat lebih dahulu, tentunya melalui sebuah sms, tidak secara langsung karena kami tidak pernah mengadakan pertemuan sekedar memanjakan perasaan, kecuali jika memang keperluan mendesak, dan itupun tak bisa leluasa, hanya sebentar.  

Masih terekam saat ia mengatakan dirinya tertidur waktu membalas pesan, hingga ku perkenankan ia memasuki ruang mimpi, meski jauh di dasar hati, aku tak rela jika harus ditinggal sendiri. Tapi begitulah, aku tetap akan mengalahkan rasa manja yang meruang, meski rasanya tak begitu sedap, meski terkesan kurang ikhlas, tak apalah, mencoba untuk menerima keputusannya, dan tanpa ku perintah sesuatu dibalik rusuk merangsang kembali, kesensitifan  mulai menyentuh rasa, membuahkan tetesan bening di pelupuk, meski tak sempat berkejaran, karena memang sengaja diseka. Ku yakinkan diri, tak seharusnya aku berlebihan seperti itu.  Rasa syukur atas kasih yang telah Allah titipkan padanya menjadi pengalih perasaan.

Dan entah mengapa ternyata tak semudah itu mengikhlaskan, hatiku masih bergejolak, seakan haus rasa kasih dan pertemanan yang nyaman, terbuai oleh suguhan yang selalu diberikan, namun tampaknya kali ini ia memilih berlalu bersama dunia bawah sadar. Sebagai wanita kupandangi diri, terasa miris mendapatinya bagai pengembara yang haus kasih, semakin diresapi, semakin nyeri, aku tak yakin bisa mengajari diri sendiri menjadi lebih kuat dan mandiri setelah menceburkan hati di kedalaman perasaannya.

Hasrat hati tak ingin mempermasalahkan, melepasnya tanpa rasa berat dan bisa berlapangdada, kenyataannya tak mudah, dikala seperti itu, rasanya begitu sempit, seperti pengajuan keadilan yang belum terpenuhi, aku menuntut namun tak tahu apa hal itu perlu dihakimi. Mula fikiran menerawang kembali, membayangkan bagaimana ketika posisiku berada diposisinya, ternyata sejauh ini, aku lebih memilih bersamanya, tak peduli ketika sakit maupun mengantuk, rasa sayang mengalahkan kebutuhan fisik, tak jarang rasa sakit yang singgah di perut datang dan menyarankan untuk beristirahat, namun ku tepis hal itu, bungkam, aku diam dari rasa sakit yang mengganggu, memilih berkomunikasi dengannya, entahlah bagaimana dengannya,,

Seperti pengadilan, fikiran merangkai aksara yang meruam dalam dada, tuntutan-tuntutan untuk saling seimbang mengusik pola nalar, aku bertanya mengapa ia tidak menengok sama sekali perasaan berat yang masih bertumpu. Ku sadar, tak seharusnya masalah sepele ini dipermasalahkan, seakan tidak ada yang lebih penting, padahal masih banyak hal yang lebih pantas untuk diperhatikan, tapi apalah daya, perasaan adalah hal yang paling berperan terhadap suasana hati, dan ia menguasainya, seperti dzikir yang tak pernah kusengaja namun kerap merebak di jiwa. Akankah tidak begitu penting jika hal itu seakan memberikan kesimpulan bahwa rasa kasihku masih lebih besar dari rasa sayangnya? Sementara aku wanita.

Kini ku tengok diri yang tercipta sebagai hawa, wanita yang hanya serpihan tulang rusuk sang pria, terasa sedikit sesak jika benar rasa sayangnya tak lebih besar, meski banyak rasa yang telah terurai, kata manis yang telah ia suguhkan, segalanya jadi temaram, sekadar kata yang mudah berlalu dan mungkin tak kan sepenuhnya sanggup menggambarkan perasaan.

Hanya saja ku seorang wanita, mungkin jika ditakdirkan sebagai seorang pria, selain rasa sayang yang benar-benar meliputi diri, kecenderungan untuk mementingkan kebersamaan dengannya akan lebih ku pilih. Tapi ia, entahlah mungkin hanya prasangka saja atau aku lah yang  memang berlebihan.

Baiklah, tak kan kubiarkan hati ini menangis karena praduga demikian. Bila Allah menakdirkan kadar cinta sebatas itu, apalahdaya, meski terasa kurang bernyawa, ku harus memaklumi keadaan, mencoba berfikir lebih luas dan dewasa.

Akhirnya, ku sadar setiap yang menghampiri, entah masalah atau apapun bentuknya tergantung bagaimana individu itu menanggapinya, seperti yang terjadi saat ini, mungkin saja masalah ini terlihat begitu kecil bahkan sangat remeh, namun bisa juga masalah ini menjadi masalah yang patut diperhatikan. Mungkin kali ini ku melihatnya dari sisi yang tidak remeh, sehingga penanggapan atau penyikapannya begitu sempit dan menyesakkan. Maafkan mungkin tak seharusnya ku memandang dengan kacamata demikian. Dan akhirnya, Ku harap kasih itu juga sama besarnya untukku. Terimakasih atas segalanya.


4 komentar

3/25/2017

|o||o||o||o||o||o||o||o||o||o|
galau sangat =( =(

Reply
avatar
3/26/2017

hahaha. iyakah ?? :D
makasih komennya :)

Reply
avatar


View MoreHOTTEST ARTICLES