Simponi Berlalu, saat ku pejamkan mata dari kain perdu
lukisan wajah yang tersirat dalam hayalan restu
mematahkan berbagai rasa yang menyatu padu
Bukankah ini kisahku?
Bukankah ini muncul bagaikan sembilu?
Yang tak kunjung mendapati keberadaan baru?
Dunia hening, menyiratkan siluet warna pelangi
Sempat beradu dengan suratan tak menentu
Mungkin ini jawabku,
Bertahun sudah ku ceburkan diri
Membiarkan kedekatan tak resmi yang mungkin berujung pilu
Dekatku, Jauhku, bagai kapas terbang, tak bersalah, tak menentu
Itulah aku, mengalir bagai air yang tak tahu hulu
Aku takut, tapi aliran itu tak mampu berhenti seketika itu
Biar ku tanam ragu, menikmatinya bagai bongkahan yang meleleh perlahan
Biar Tuhanlah yang menjawab, aku masih menunggu suratan.
lukisan wajah yang tersirat dalam hayalan restu
mematahkan berbagai rasa yang menyatu padu
Bukankah ini kisahku?
Bukankah ini muncul bagaikan sembilu?
Yang tak kunjung mendapati keberadaan baru?
Dunia hening, menyiratkan siluet warna pelangi
Sempat beradu dengan suratan tak menentu
Mungkin ini jawabku,
Bertahun sudah ku ceburkan diri
Membiarkan kedekatan tak resmi yang mungkin berujung pilu
Dekatku, Jauhku, bagai kapas terbang, tak bersalah, tak menentu
Itulah aku, mengalir bagai air yang tak tahu hulu
Aku takut, tapi aliran itu tak mampu berhenti seketika itu
Biar ku tanam ragu, menikmatinya bagai bongkahan yang meleleh perlahan
Biar Tuhanlah yang menjawab, aku masih menunggu suratan.

0 komentar