Seseorang baru saja memanggil, hendak memberikan sesuatu. Tanpa bicara dan bertanya, aku datang menemuinya, disitu, ku dapati ia tengah sibuk mencari, aku berhenti di tempat, terdiam, mata ini hanya bisa mengamati, mengikuti gerak-gerik saat ia menyebut nama Warda disela-sela kesibukannya mencari namaku, tak lama, ekspresi menemukan sesuatu menghias bibirnya. Iya menyodorkan slip kertas putih, tangan ini menerimanya tanpa beban, benar-benar ringan, karena aku belum mengerti apa yang sedang terjadi, entah apa sebenarnya yang ia berikan padaku.
Kertas putih itu sudah berada di genggaman, aku melangkah kembali ke peraduan. Rasa penasaran menguasai, namun ku tunda sebelum sampai di ruangan. Sesampainya, dengan teliti ku amati sesuatu yang tertera disana, mataku membulat melihat angka-angka yang berjajar, nominal-nominal yang baru ku tahu maksudnya. Inikah dia? Imbalan pertama yang ku dapatkan?
Aku tak bisa memilih antara menerimanya dengan senyuman ataukah kebingungan. Belum ada ekspresi yang ingin ku ungkap, meski tak bisa ku pungkiri, pikiran ini langsung berkelana pada mereka yang disana, aku ingin mengabarkannya, memberi tahu, bahwa Insayaallah aku bisa sedikit membantu keluarga, atau menabung untuk kebutuhan acara besarku nanti. Aku yakin mereka akan bahagia dan merasa ringan.
Namun, sejenak, aku ingin kembali meresapi apa yang terjadi.
Kenapa rasanya berbeda? Seperti ada pamrih yang dibalas, serasa kehormatan itu secara halus tersentuh. Seakan sebuah pengabdian itu menjadi jasa yang terbalas dengan harga dan nominal. Oh, seperti itukah rasanya?
Ya Allah, semoga saja tidak, ku anggap ini adalah sebuah berkah yang berasal dariMu. Letakkan pandangan dan niatku di tempat yang sebenarnya Ya Ilah.
Niat itu,, aku khawatir ternoda, untuk membantu mencerdaskan anak bangsa dan mengabdi pada sang Murobbi Ruhina. Aku tak ingin memandangnya pada angka satu, biarlah ia terlupa, menjadi pengiring untuk membantu ayah ibu disana.
Bismillah, sampai detik ini hingga nanti, semoga niat hati tak berubah. Ku harap jerih payah adalah sebuah harga untuk Jannah disana, meski tak kan pernah cukup, namun aku mengharap RahmatNYa yang luas. Karena sejatinya Dialah yang berhak membalas semua ini, dan manusia adalah sebuah perantara di dunia. Kebahagiaan dunia dan akhirat yang senantiasa ku damba, semoga tetap setia dan menjadi Realita. Aamiin..

4 komentar
Super Sekali
Reply=( alloh tau apa yang hambanya butuhkan ,,,, semangat ukhty,,!!!
Replymakasih Bang Kyep =D
ReplyOke. Selalu semangat :D
Reply