Sampai detik ini
kami mungkin tak kan pernah tahu alasannya, mengapa Tuhan menakdirkan kami
hidup bersama dan mengakhiri kisah kita seperti ini.
Aku Maria,
terlahir dari pasangan Sulha dan Sholeh. Rumah yang kami tempati, berada di
sebelah barat jalan raya, dengan ukuran cukup panjang jika dibandingkan
rumah-rumah lain disekitar kami, tv di rumah sudah ada saat tetangga-tetangga
yang lain belum mampu untuk membelinya, ayah dan ibu mendapatkan penghasilan
dari menjual pakaian di pasar, setiap harinya selalu saja ada pundi-pundi
rupiah yang mereka bawa. Ku lihat, sering kali, ayah dan ibu menyisihkan uang
untuk dibagikan kepada anak-anak saudaranya, Termasuk Fakhira, sepupu yang
sejak dini sudah menjadi sahabat seperjuanganku, diantara sepupu-sepupu yang lain,
aku lebih merasa cocok bersamanya, karena ia selalu bersemangat meski bermain
sesuai dengan apa yang ku inginkan, mungkin hati kami memang sejalan.
Sekolah kamipun
sama, sejak SD hingga mendapat ijazah atas kelulusan kami. Kebersamaan itu tak
cukup sampai disitu, karena selanjutnya kami bersama melanjutkan pendidikan di
Pesantren al-Hidayah di daerah yang tak jauh dari kota. Orang tualah yang
memutuskan kami untuk menjalani pendidikan agama disana, mereka tentu
menginginkan yang terbaik, meski hati serasa berat, namun apalah daya, demi
masa depan kehidupan yang lebih berarti, akhinya dengan kekuatan tawakkal kami saling
menguatkan karena harus jauh dari mereka yang tak lain demi mengemban ilmu
agama. Berbekal beras dan pakaian seadanya, karena katanya di pesantren,
pakaian hanya dibatasi lima biji, agar lemari yang tersedia disana cukup untuk
berbagi.
Waktu terus
berselang, senyuman yang tak bisa di tawar tetap merona mengeratkan tali
keakraban dibalut persaudaraan. Ayah ibu, paman dan bibi bergantian mengirimkan
kebutuhan kami. Alhmdulillah, untuk masalah financial kami merasa tercukupi.
Disana, umur
kami semakin beranjak remaja. Tak bisa ku pungkiri, disinilah cerita ini
dimulai.
Kami memiliki sang
ustadz idola, begitulah kira-kira sebutan yang benar-benar tepat untuknya, aku
mengakui, bahwa ia memang mempunyai banyak penggemar di pesantren ini. Pernah
suatu kali, acara haflah akhirussanah di gelar, ia yang berjalan kearah podium
serta merta disambut oleh sorak sorai para santri terutama santri putri, termasuk
diriku yang tak lepas menyunggingkan senyum untuk kehadirannya, satir memang
tetap menjadi penghalang antara kami dan santri yang lainnya, tapi panggung
haflah? Ia bisa kami lihat dari sini, baik santriwan maupun santriwati bisa
dengan leluasa menyaksikannya.
Sayup-sayup lantunan
ayat surgawi membahana di acara, kami menikmati suara lembut menggugah hati, saat
ia mulai berseru tentang ayat-ayat suci yang berisi kebahagiaan surgawi,
tentang arti dan melodi yang tercipta aku tak bisa membahasakannya, banyak
teman-teman yang terpana dan menganga, Subhanallah, entah bagaimana Allah
menganugerahkan keindahan yang memanjakan telinga. Disana, aku terbuai,
sesekali ku pejamkan mata untuk menahan rinai yang begitu mudahnya akan
mengalir dari sudut-sudut mata, namun bagaimana mungkin tertahan jika ayat yang
terasa syahdu itu begitu mudah menyentuh rasa, aku menyaksikan kebesaranNya
melalui makhluk yang Ia ciptakan, terutama yang saat ini berada di depan, tak
tahan rasanya, pada akhirnya deras air mata itu bergulir begitu saja,
MasyaAllah…
Dan cerita ini
berlanjut, saat ia, ustadz Idola hadir memasuki kelas kami, dengan kegembiraan
yang tak terkira, kami yang sudah tahu namanya berpura tak mengenal dan memintanya
untuk menyebutkan nama, status, tanggal lahir serta apapun yang berada
dibiodata, seperti yang sudah kami tahu sebelumnya namanya adalah ustadz Fasya,
Asy’ari Fasya lengkapnya, dan satu hal yang merupakan berita paling bahagia
untuk kami, ternyata ia belum menikah.
Siapa pula yang
tak bahagia, menatap keindahan yang tercipta serta kasih sayang yang berbinar
dari pandangan matanya. Ia memiliki tinggi semampai, hidung yang mancung
layaknya orang-orang arab keturunan Nabi kita, mata yang bening di iringi
kopyah putih yang melambangkan kesucian, sangat berpadu dengan warna kulit
kuning yang terlihat pantas mengenakan baju apapun, bagai komposisi yang
terlihat pas. Di dalam kelas, ternyata ia mudah sekali bersua, membuat kami
lega dan dengan leluasa mengutarakan pertanyaan yang ingin kami sampaikan.
Walau masih muda, tak disangka ternyata pertanyaan-pertanyaan kami seputar
fiqih tentang wanita begitu mudah ia jawab, refrensi yang ia sebutkan juga
meluas, seperti tentang masalah haid yang slalu menjadi permasalahan kompleks
dan tak pernah ada habisnya.
Salah satu yang
aktif bertanya adalah diriku dan sepupuku Fakhira. Kami satu bangku, dan selalu
berdikusi untuk perihal yang perlu kita ketahui jawabannya. Begitulah, waktu
demi waktu berlalu, hingga tak disadari usia sudah semakin bertambah. Ustadz
Fasya, sudah tak mengisi kelas kami lagi, tentu saja karena sudah waktunya
untuk kami mengabdi, menyalurkan ilmu kepada adik-adik santri. Fakhira telah
terlebih dahulu kembali ke rumah, karena ibunya sudah semakin menua, ia sebagai
anak pertama yang sama dengan posisiku harus menggantikan posisi ibunya yang
memilki usaha toko bangunan di pinggir jalan raya untuk membantu ayahnya, walau
demikian di sore hari Fakhira masih menyempatkan diri untuk mengisi ngaji di
Musholla terdekat, bahkan sesekali ia mengajarkan ilmu agama kepada mereka.
Sementara itu,
di pesantren aku sudah menjadi senior, sering kali aku diajak keluarga ndalem
untuk menemani mereka saat bepergian, entah untuk membantu mengasuh putra
mereka yang masih kecil, atau sekedar dijadikan teman untuk menemani bu nyai,
sebenarnya masih banyak santriwati senior yang lain, namun begitulah, saat
waktu telah berkata, mungkin karena kecocokan jiwa, hingga tak terasa, ternyata
aku sudah sebegitu dekatnya dengan mereka.
***
Sebelumnya, aku
sudah terlupa, kesibukan telah mengalihkan perhatianku untuk fokus pada pesantren,
hingga pada suatu hari keluarga ndalem memanggilku untuk sebuah keperluan,
mereka memanggil tanpa memberikan penjelasan. Aku hanya menerka, apa gerangan
yang ingin disampaikan keluarga ndalem.
Tak lama berselang, ibu nyai hadir membukakan
pintu dan menyuruhku duduk. Aku menuruti perintahnya, beliau mulai bersuara, disitulah
sebuah kegirangan muncul perlahan menyusup hati, antara percaya dan tidak, apakah
ini nyata atau hanya mimpi belaka, aku mendengar dengan seksama nama Fasya
terdengar merdu di telinga, spontan aku kembali mengingat wajahnya, keteduhan
itu membawa ingatanku di masa kemarin saat mengikuti pelajaran terakhirnya,
rasa sedih yang datang tanpa permisi, namun bagaimanapun itu harus terjadi, karena
pada saat itu berlaku aturan untuk para ustadz yang belum menikah tidak diperkenankan mengajar kelas putri, kecuali bagi mereka yang sudah menikah. Sementara ia,
ustadz Fasya adalah ustadz muda yang belum menikah, akhirnya kelas kami
digantikan oleh ustadz Syafi’.
Sejak itulah,
aku tak pernah lagi melihat wajahnya, perlahan rasa kehilangan itu sedikit demi
sedikit teralihkan, meski tak bisa di pungkiri aku merindukan sosoknya, mungkin
begitu pula dengan teman-teman yang lain. Cara bicara, senyuman, keramahan,
kopyah putih, semua tentangnya mula melenggang dalam memori.
Dan kini, ada
sebuah isyarat tentang pertemuan yang akan terajut kembali, aku tak pernah
menduga sejauh ini, ia, ustadz Fasya, telah menyampaikan niat suci yang berasal
dari jiwanya, niat suci yang begitu sakral, niat suci yang takkan pernah
terutarakan oleh ia yang bukan pilihanNya, bagaimana bisa aku tak menyambut
manis keindahan yang datang dengan sendirinya padaku, jujur, rasa haru
bercampur baur dengan perasaan tak percaya, sang idola itu ternyata memilih
seorang Maria untuk menjadi bidadari surganya. Diantara 1001 wanita, aku merasa
menjadi wanita paling beruntung sedunia.
Ku anggukkan
kepala tanpa mampu menyembunyikan senyum yang hadir dengan mudahnya, Ibu Nyai
terlihat begitu lega, begitupun dengan rasa bahagia yang membuncah dan ingin
segera terekpresikan, setelah itu aku pamit undur diri kembali ke asrama putri.
Di dalam asrama,
aku tak bisa menahan diri, teman-teman seperjuangan ku beri informasi, mereka
bersorak histeris, menanyakan banyak hal mengapa itu bisa terjadi seakan tak
percaya jika ternyata ustadz Fasya menjatuhkan pilihan kekasih halalnya padaku,
tentu saja, aku juga tak mendapatkan jawaban untuk mereka, karena ustad
Fasya sendiri sudah lama tidak ku jumpa, meski aku yakin ia masih disana di
tempat santri putra. Banyak teman-teman mengucapkan selamat padaku dan berkata mereka
merasa iri. Aku tersenyum, seakan mendapat durian runtuh tanpa harus
berkompetisi.
Pertanyaan besar
tersimpan dalam memori, aku mencari celah tentang takdir yang membawanya
padaku, rasa penasaran itu akan ku simpan sampai nanti, saat tiba saatnya ia
menjadi imam dalam kediaman surgawi kami.
Terhitung, hanya
sekitar tiga bulan dari jarak ibu nyai memanggilku untuk sebuah pertemuan
manis, saat tanpa ku tahu ternyata ustadz Fasya telah mendapat restu orang
tuaku di rumah, ia datang mengkhitbah, jawaban yang telah ku sampaikan pada bu
nyai ternyata membawanya pada tekad bulat untuk mengutarakan maksudnya membawaku
ke istana surga. Sementara itu aku masih bersemayam di pesantren. PR besar
tentang segala misteri bagaimana mula-mula ia mendatangi kehidupanku kembali berkecamuk
di fikiran. Karena tak lama lagi aku akan segera bertemu ia di pelaminan.
***
Hari indah itu
datang, wajahnya hadir kembali, kini aku menyambutnya dengan hati yang penuh
debaran dan cinta, sekali lagi aku merasa melayang dalam mimpi, tak disangka
dan tak pernah ku duga, takdir yang indah menghampiri kami, suara akad nikah berdengung-dengung
di telinga, aku mendengarnya saat ia mengucapkan janji indah yang begitu mudah
menumpahkan air mata kebahagiaan. Sungguh indah, berkali ku ucapkan rasa syukur, takbir dan tahmid untuk memuji kebesaranNya. Subhanallah.
Satu hal yang
takkan pernah ku lupa, Fakhira, sepupu sekaligus sahabat yang begitu ku sayang,
ia hadir menemani kami dengan senyum mengembang, masih teringat saat kami
bersama menjadi murid ustadz Fasya. Fakhira juga begitu terkejut saat ku beri
tahu bahwa aku kan menikah dengan sang idola, namun rasa terkejut itu ia
lampiaskan dengan pelukan hangat dan air mata, aku berdo’a agar ia juga segera
mengikuti jejakku, bersanding dengan imam terbaik pilihanNya. Kami saling
mengamini dan mengusap air mata haru yang baru saja bermuara.
Hari demi hari terus berganti, Aku tak mampu membahasakan sepenuhnya apa yang telah terjadi, kami melalui kemesraan dalam balutan cinta Ilahi. Ia benar-benar imam yang menjelma dari bayangan sosok pemimpin yang selama ini ku angankan, dan ku sisipkan dalam setiap do’a yang kupanjatkan. Allah telah menjawabnya, anugerahNya begitu memenuhi jiwa, tak pernah ku sangka, seorang Maria berada dalam pelukan kasih sayang sang Idola, cinta yang ustadz Fasya curahkan begitu penuh dalam dada.
Hari demi hari terus berganti, Aku tak mampu membahasakan sepenuhnya apa yang telah terjadi, kami melalui kemesraan dalam balutan cinta Ilahi. Ia benar-benar imam yang menjelma dari bayangan sosok pemimpin yang selama ini ku angankan, dan ku sisipkan dalam setiap do’a yang kupanjatkan. Allah telah menjawabnya, anugerahNya begitu memenuhi jiwa, tak pernah ku sangka, seorang Maria berada dalam pelukan kasih sayang sang Idola, cinta yang ustadz Fasya curahkan begitu penuh dalam dada.
***
Suatu hari, saat
tengah membuang sampah, tak sengaja aku melihat sebuah coretan tinta yang tak pernah ku
kenali, seperti sepucuk surat, penasaran, akhirnya tangan ini memungut kertas
yang baru saja telah ku masukkan dalam tong sampah.
Untukmu Ustadz Asy’ari Fasya yang dirahmati Allah
Assalamu`alaikum WR. WB
Sebelumnya, Maafkan aku yang telah lancang mengirim kumpulan aksara tak berharga ini.
Kegersangan sedang meliputi hatiku, entah kenapa ia terus berseru menyebut sebuah nama, sementara dikesempatan aku melafadzkan namanya, teguran keras menyambar diri, tak pantas rasanya jika aku terus menyebutnya sementara hatiku masih penuh noda, Allahlah yang seharusnya senantiasa ku sebut sebagai penenang hati sedang merana karena hambaNya.
Ku sadar, seorang wanita tak seharusnya melakukan hal ini, harga dirinya haruslah dijunjung tinggi, namun apalah daya, aku sudah tak mampu menahan rasa, aku tak ingin menanggungnya sendiri, setidaknya engkau tahu bahwa ada seseorang yang tengah memendam rasa suci padamu, yaitu diriku wanita yang tak berdaya.
Dalam hampa, aku merindukan sosokmu, berkali ku pejamkan mata, berkali itu pula kau kembali hadir menjelma sebagai bayang-bayang yang begitu ku damba rasa cinta kasihnya, aku menderita, menahan rasa yang tak kunjung sirna, entah bagaimana aku harus menyisihkannya, sementara kau begitu indah dalam dada.
Belum ada keberanian bagiku untuk menyebutkan nama. Mungkin dikesempatan nanti, aku harap Tuhan membawamu dengan jalanNya yang indah, aku ingin kau datang sebagai utusan Tuhan tuk menjadi pendampingku di dunia dan di surganya. Aamiin.
Wassalam.
Dariku, Hamba Allah yang faqir.
Subhanallah,
siapa gerangan yang menulis surat ini? Aku benar-benar terhanyut membacanya,
perasaan yang ia pendam begitu dalam untuk suamiku, namun siapa? Suamiku belum
pernah menceritakan hal ini sebelumnya. Tulisan itu,, aku seperti mengenalnya. Tapi
siapa??
To be Continue...
tunggu di part selanjutnya ya,, :)

0 komentar