Sebelumnya, kita hanya bertemu, mengetahui rupa namun tak mampu bersuara,
kau memulai untuk angkat bicara, memecah kesunyian bersama sapaan alam yang
menatap resah. Aku, wanita yang mulai merekah tentu merasa tersentuh oleh
kearifan dan keramahan yang telah kau suguhkan. Perlahan, rasa itu mulai
menghias pasrah, ada kebahagiaan yang tak sadar menghadang, berisyarat tentang
suatu kebutuhan, rasanya aku mulai mengenal apa itu ketertarikan, melalui
sebuah nuansa yang tercipta dan aroma keakraban yang mulai merindu dendam.
Kertas putih itu begitu ingin ku jamah, agar aku leluasa menorehkan
apa yang terpendam dalam dada, agar aku tak menanggungnya seorang diri. Dengan
goresan pena berbaris-baris aksara begitu mudah ku rangkai, menjadi sederetan
ungkapan cerita semanis gula, aku tak pernah menyangka ternyata telah tiba
masanya, telah sampai waktunya aku menjadi dewasa, akhirnya aku mulai
menebak-nebak apa yang ku rasa dan aku yakin disana kau pasti merasakannya.
Memendam, tanpa mengetahui yang disana memang sedikit menyiksa,
serasa harapan yang menggenang di atas telaga, aku menanti, meski telah
meyakini, namun hari-hari belum juga bersaksi secara pasti.
Suatu hari, pada waktu berkomunikasi, komunikasi tertulis, melalui
untaian kata, aku telah menggiring perasaanmu untuk terbuka, padahal bisa saja
kita hanya sampai disitu saja, tak perlu saling mengungkapkan rasa. namun
apalah daya saat goda dan alpa telah menggenderang di dada, akhirnya kita
mengaku kalah dengan apa yang bergejolak di dalamnya. Kita bersama tenggelam
dalam buai asmara yang masih semu, kebahagiaan tak terkira meledakkan senyuman
di jiwa, akhirnya tak ada rahasia diantara kita, kau dan aku kini dengan
mudahnya bersuara, meski sebatas via aksara dan suara.
Saat ini, saat hubungan telah terbina, aku merenunginya, andai saja
kita mengenal lebih jauh saat sebuah ikatan sakral mengantarkan pada manisnya
ibadah, mungkin kita akan lebih bahagia disaat halal itu, disaat pengenalan
lebih dalam terjadi di awal pernikahan, kita akan saling mengagumi dan mensyukuri
pasangannya dalam nikmat keridhoan, tidak seperti sebelumnya yang aku tak tahu bagaimana kita
mempertanggungjawabkannya nanti, Mungkin aku salah telah memancing untuk
mengungkapkan sejujurnya perasaanmu.
Masa telah berlalu, nasi telah menjadi bubur. Tiada guna
menyesalinya. Kealpaan-kealpaan yang sebelumnya, semoga menjadi pelajaran untuk
generasi kita di masa depan. Kini, kita mulai menahan apa yang kita bisa,
melaksanakan komunikasi saat kebutuhan benar-benar memanggil, meski terasa tak
biasa, namun biarlah menjadi sedikit pengorbanan untuk kebahagiaan kita di masa nanti, semoga
sedikit pengorbanan ini membangun jiwa kita untuk semakin mendekatkan diri pada
sang Ilahi, sungguh, aku senantiasa berharap ampunan dan ridhoNya.

2 komentar
very nice
ReplyTerimakasih =D
Reply