Badai Keharmonisan

Badai Keharmonisan

Badai Keharmonisan

Apa kau tahu? laki-laki yang sudah beristri memiliki kebutuhan yang harus di penuhi nya, mungkin ini kedengaran nya agak risih, tapi karena kau sudah remaja jadi aku tidak terlalu sungkan untuk menyampaikannya, orang laki-laki itu butuh nafkah batin nak, kemungkinan akan sulit bertahan kerja jauh sampai tidak pulang berbulan-bulan tanpa nafkah batin.

Badai Keharmonisan Keluarga

Suci tertunduk diam, ia terlihat mendengarkan dengan seksama, dicernanya lagi kata-kata bibinya yang begitu menindih fikiran, ia benar-benar menyadari hatinya begitu memberontak, antara percaya dan tidak percaya, apakah itu semua rekayasa atau nyata. Ia mencoba menolak, ia masih tidak percaya ayahnya akan berbuat hal-hal yang tidak-tidak. Memang benar, akhir-akhir ini ayahnya jarang pulang, tapi yang ia ketahui alasannya adalah pekerjaan demi membiayai anak istrinya, termasuk Suci yang sedang memasuki bangku kuliah sekaligus nyantri di Pesantren.

“kemarin, aku dapat kabar dari Pak Rofiq, dia bilang, katanya dia melihat ayahmu dengan perempuan lain dan anak-anaknya, mereka terlihat bahagia”

“memangnya Pak Rofiq kelihatan ayah dimana?” Suci berusaha membuka suara, mencoba mengangkat wajah meski suaranya sedikit melemah, nada bicaranya terkesan ingin membantah apa yang dikatakan bibinya, karena ia masih sulit untuk percaya semua itu begitu saja, namun bagaimanapun mendengar kabar demikian, bagai ada seember kotoran yang akan dituangkan pada keluarganya.

“Beneran nak, Pak Rofiq berkata dengan serius, ia juga terlihat syok saat menyampaikan, apalagi ia melihat ayahmu di Pancoran, jadi kemungkinan selama ini ayahmu gak pulang-pulang, malah pulang kerumah istri satunya, di daerah sini pula”

Gemuruh dalam dada Suci tak bisa tertahankan lagi, ia merasakan matanya mulai terasa nyeri dan hangat, ada air yang berusaha mendorong untuk keluar, tak tahan perlahan buliran bening itu menetes berkejaran, bendungan itu begitu deras, terlebih dengan kata-kata bibinya yang menyuarakan bahwa ayahnya terlihat jalan berdua dengan wanita yang masih dalam daerahnya, padahal ia tahu ayahnya kerja di pulau seberang, di daerah Lombok. 

Rasanya begitu perih mendapati pengkhianatan ayahnya sendiri, meski ia masih bertanya-tanya, meski ia ingin semuanya hanya sandiwara dan gosip belaka, namun Suci masih tak habis fikir, jika memang hanya gossip mengapa sampai ada berita demikian? Tak ada lagi mood untuk berkata-kata, Suci hanya ingin kembali ke rumahnya dan mengabarkan semua ini pada sang ibunda tercinta. Dengan berurai air mata, Suci berpamitan pada bibi yang sejak tadi duduk di sampingnya, ia mencoba menyeka sendiri agar tak terlalu terlihat menyedihkan. Sementara bibinya terlihat sedikit marah pada ayah Suci, jelas, karena bibi ini adalah bibi Rosyida, bibi yang berasal dari jalur ibundanya. 

Suci bergegas pergi, berharap segera sampai dirumahnya yang damai dan menentramkan, perasaannya  masih bergejolak, tak disangka, niatnya untuk bertamu ke rumah bibi malah merubah keadaan cerianya menjadi gelap gulita. 

Selama perjalanan, Suci menunduk agar tak terlihat oleh tetangga, keadaannya tak lagi mendukung untuk bersapa ria, jarak dari rumah bibi dan ibunya sekitar 100 meter, butuh beberapa menit saja untuk mencapai rumahnya. 

“Ibuk..”
Dengan suara lemahnya, Suci membuka pintu dan memanggil ibunda.
“apa Suci? Ibu di kamar, lipat baju”
Suci berjalan lekas, emosinya membawa dirinya cepat sampai dihadapan ibunda.
“ada apa, Lah kok matanya merah, kamu habis nangis? Kenapa Suci?”

Suci masih terdiam,seraya mengambil tempat duduk disamping ibunya, dengan wajah sedikit cemas, ibunya menanyakan kembali, apa sebenarnya yang telah terjadi pada Suci. Akhirnya, Suci mulai berbicara, ia mulai menceritakan semua hal yang telah dibicarakan bibinya, meski dengan kekhawatiran ibunya akan terlihat sedih, namun keganjalan dalam hatinya sudah menerjang untuk segera dikeluarkan.

Ibu Suci mendengar dengan seksama, ada sedikit ekspresi  terkejut dalam mimik mukanya, hanya sedikit, selebihnya terlihat biasa-biasa saja. Suci sedikit heran ibunya tak serapuh Suci saat mendengarkan kabar tentang hal itu, padahal ibunya adalah posisi yang paling tersakiti dan paling terpukul jika kabar itu memang benar-benar nyata. Tapi Suci tak habis pikir melihat ibundanya yang tak begitu bereksperesi, malah terlihat mendengarkan dengan tenang. 

“Ibu tidak terlalu percaya dengan kabar itu, ayah kamu ada di Lombok kok, setiap hari telpun ibu gitu, mana mungkin dia ada di daerah kita, ibu juga mendengar ada suara-suara pekerja saat ayahmu telephone, tak mungkin Suci, mungkin mereka hanya mengada-ngada ” 

“bibi kamu memang mudah percaya, kamu tahu sendiri kan bagaimana perangainya, sebenarnya dia orang baik, ibadahnya kepada Allah juga terlihat lebih rajin dari pada ibu, setiap hari selalu sholat malam, gak seperti ibu yang jarang sholat malam, ibu juga heran tidur ibu kok begitu nyenyak, jadi baru bangun waktu adzan shubuh berkumandang, tapi ya tentu Allah mempunyai pertimbangan sendiri.

Kamu tahu, sekitar dua minggu yang lalu ibu mencoba berbaur dengan segerombolan bibimu dan teman-temannya, ibu kira ada apa, waktu itu ibu baru pulang dari ngajar madrasah Diniah di rumah bibimu, akhirnya ibu duduk dan ikut mendengarkan apa yang sedang asyik mereka bicarakan, ibu hanya diam, tapi ibu mendengarkan bagaimana mereka menggunjing orang lain dan membicarakan bu ini dan bu itu begini begitu, malamnya waktu istirahat ibu terbangun tengah malam, ibu bermimpi ibu melihat ada dua orang laki-laki yang meninggal kecelakaan di jalan raya, sementara itu, ibu bergegas menghampiri mereka dan tiba-tiba ibu memakan daging dari dua orang yang kecelakaan itu, untungnya ibu segera terbangun, ibu terkejut sambil bertanya-tanya mengapa ibu mimpi buruk seperti itu? Setelah ibu ingat-ingat, ibu baru mendapatkan jawabannya, mungkin ini peringatan dari Allah secara langsung kepada ibu, sebagaimana Hadist yang pernah disampaikan Rosulullah,  bahwa orang yang menggunjing baik yang berbicara maupun yang mendengarkan sama halnya dengan orang yang memakai bangkai saudaranya sendiri ”

Dengan nada sangat meyakinkan ibu Suci membantah apa yang yang telah Suci terima dari kabar bibinya, melihat sikap dan argument demikian Suci merasa lebih tenang dan tak lagi begitu percaya dengan apa yang telah didapatkan dari bibinya, meski ruang kecurigaannya masih bertanya-tanya apakah benar ayahnya tidak berbuat hal demikian, namun untuk apa orang-orang itu menggosipkan ayahnya sampai sedemikian rupa. Suci masih mencari jawabannya. 

By: Wardatul Jannah @Diary Wardah
Original

0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES