Ahli Dzikir atau Ahli Fikir?

Ahli Dzikir atau Ahli Fikir?

Ahli Dzikir atau Ahli Fikir?

Pernah suatu kali dosenku memberikan mata kuliah tasawuf dan beliau menerangkan sebuah ayat yang sebelumnya belum pernah ku renungkan.
فاسْلوا أهل الذكر ان كنتم لا تعلمون
Ayat di atas menyuruh kita untuk bertanya pada ahli dzikir saat hati ingin memperoleh kepuasan jawaban atas suatu hal. Kata فاسْلوا  yang merupakan fi’il amr, memiliki kesan memerintah, itu berarti ada makna tersirat dibalik ajaibnya ayat-ayat al-Qur’an yang senantiasa dilantunkan oleh banyak umat muslim. Sekarang pertanyaannya mengapa harus ahli dzikir? Kenapa bukan ahli fikir saja?
Ahli Dzikir atau Ahli Fikir?

kita tahu bahwa dzikir disini adalah perbuatan hati, hati kita berdzikir, sementara otak kita berfikir. Ayat tersebut tidak menyuruh kita bertanya pada ahli fikir, melainkan pada ahli dzikir, itu artinya bertanyalah pada orang yang mengerti. Ahli dzikir adalah orang yang menyertai hati nuraninya sebagai pertimbangan sebuah jawaban, tidak sebatas fikiran yang digunakan untuk memecahkan segala bentuk persoalan, yang digunakan adalah akal kemudian hati, definisnya bermuara tetap pada hati. Kita sering mendengar, saat ingin mencari suatu kepastian namun kita tak jua menemukan jalan keluar, sementara akal sudah penat memikirkan, maka yang ikut andil disini adalah hati, bertanyalah pada hati nurani. Karena hati akan merasa puas dengan jawaban yang juga dipertimbangkan dengan hati nurani pula, perasaan bertempat di hati, rasa puaspun tempatnya berada di hati, bukan di fikiran. 

Hati yang sudah begitu akrab sebagai media komunikasi dengan batin kita sendiri, merupakan penentu keputusan saat kita bertanya tentang kebenaran dan kebatilan. Saat fikiran sudah turun tangan untuk memikirkan segala kemungkinan, apakah itu baik ataukah buruk, atau mungkin buruk namun menguntungkan, pada akhirnya jawaban akan bermuara pada hati sebagai penentu keputusan, akankah kita akan membuka tirai nurani atau malah menutupnya. Hati tempat kita bertanya manakah yang baik dan manakah yang buruk. Tempat kita bersandar pada sang Ilahi untuk mengadukan segala gundah atau terpaan yang sedang berkecamuk dalam kehidupan yang mungkin saat ini sedang kita alami. Tempat kita bersyukur atas segala karunia dan kenikmatan tiada tara yang telah Ia limpahkan kepada kita. Sembari merenungi segala kekuasaanNya, kita tidak akan pernah mampu menghitung kebesaran yang telah dibuktikannya melalui segala ciptaanNya, belas kasih yang dalam bahasa arabnya ar-rahim merupakan pekerjaan hati, karena itulah Allah memberikan manusia hati tidak lain salah satunya adalah agar manusia mengasihi sesama, agar terjalin hubungan sosial yang baik, sebagai contoh saat kita bertemu dengan pengemis, menurut akal jika kita menyisihkan uang untuk kemudian diberikan pada mereka, tentu hasilnya akan membuat kita merugi karena uang kita terkurangi, atau saat bershodaqoh misalnya, akal akan memberikan jawaban secara matematika bahwa itu akan mengurangi harta yang kita punya, namun tunggu dulu, ada hati yang patut dilibatkan karena ia adalah pusat utama yang ada pada diri manusia, karena jika rusak hati seseorang maka akan rusak seluruh perilakunya, begitupun sebaliknya.

By: Wardatul Jannah @DiaryWardah


0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES