Dear Perempuan Penanti Dua Garis, Kuatkan Hatimu

Dear Perempuan Penanti Dua Garis, Kuatkan Hatimu


Dear Perempuan Penanti Dua Garis, Kuatkan Hatimu
Sengaja, kali ini aku ingin merangkai kata kembali. 


Perihal pertanyaan yang mungkin sudah membuat banyak wanita di luar sana terluka. 


Ada teman yang pernah bercerita. Ia kerap kali mendapat cecaran, "loh belum hamil? padahal duluan dia yang nikah" "loh, mana momongannya?" "Kok lama?"


"Langsung aku nangis kejer pas totok omah, sambat nang Pengeran kok gak Ndang dikei momongan," urainya, menampilkan sekilas luka yang sempat tersirat di wajahnya. 


Di depan penanya ia memang mencoba tersenyum. Namun saat ia sudah berpaling dari wajah penanya itu, hatinya teriris, air matanya mengalir perih.


Pertanyaan yang sama juga terjadi padaku. Hanya saja, setelah menikah, seiring berjalannya waktu. Standart yang berlaku di Masyarakat itu, tidak menjadi acuan kami. 


Syukur Alhamdulillah, aku dan suami sama-sama menyadari bahwa hidup ini tak sebatas tentang tuntutan mereka. Entah sudah berapa kali, pertanyaan serupa berlabuh.


Ya, aku hanya bisa tersenyum getir, lantas menjawab "pangestune mawon," 


Kami sudah menyiapkan mental, insyaallah kami baik-baik saja, juga tidak bersedih dengan pertanyaan semacam itu. Dimaklumi atau tidak, mungkin begitulah cara masyarakat kita beramah tamah, menunjukkan kepedulian, yang tanpa sadar bisa jadi melukai hati orang lain. 


Masalah keturunan. Kami memiliki pandangan sendiri. Bagi kami, tujuan pernikahan tidak sedangkal itu. Kalaupun  Allah belum menitipkan amanah, tidakkah kita tetap bersyukur dan bahagia? Juga tidak memaksa, menuntut ini itu padaNya?


Terkadang, aku melihat mereka yang begitu riweh dengan anaknya. Wajah lelah tersirat begitu ketara di wajah sang ibu. Bayi yang sering rewel, anak yang sudah besar namun berulah ini itu, hingga membuat frustasi orangtuanya.


Untuk saat ini, kami bersyukur tidak merasakan hal itu. Meski tak bisa dinafikan, ada harap untuk melalui masa bersama buah hati, insyallah nanti. 


Banyak hal yang bisa dikerjakan, banyak hal yang harus kita syukuri. 


Semoga dengan tempaan yang sudah sejauh ini, akan membuahkan hasil yang terbaik. Jikapun Allah memberi amanah, semoga juga menjadi penerus yang terbaik. 


Alhamdulillah, rumah tangga kami bahagia-bahagia saja, dan semoga seterusnya begitu. Sama-sama mengerti, tidak menuntut ini itu. Banyak hal yang kita diskusikan bersama. Terutama tentang Tuhan yang tiada habisnya. Sering asyik, meski belum diramaikan oleh tangisan bayi.  


Kadang berkali aku bertanya, tujuan hidup sebenarnya untuk apa? Untuk memenuhi standar sosial masyarakat? Saat perawan, ditanya 'kapan nikah?' setelah nikah 'kapan punya anak?' setelah punya anak, 'kapan buatkan adik?' setelah anak besar 'kapan mantu?' kapan, kapan, dan kapan yang tak pernah ada habisnya. Terakhir, seharusnya ada juga pertanyaan 'kapan mati?'.


Bukankah kalian tahu, kita hidup untuk kembali padaNya? Dan itu urusan personal. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya masing-masing, tidak dengan anakmu, tidak juga dengan suamimu.


Kami sudah selesai dengan hal itu. 


Namun lagi-lagi ada hal yang ingin aku bantah dengan lantang. Sama, tentang stigma yang juga beredar luas di masyarakat.


Lagi-lagi standar sosial masyarakat Indonesia, yang sampai kapanpun tak akan ada habisnya. Mereka akan memandang, jika sudah menikah harusnya segera punya momongan. Bahkan masalah fisik pun akan jadi perbincangan. "Eh, dia habis nikah kok malah kurusan ya? Pasti kurang bahagia,"


Hai.. Sejak kapan, standar kebahagiaan hanya diukur dari berat badan? Sejak dari nenek moyang, bukan? Yang turun temurun dan seolah menjadi doktrin dalam kehidupan bermasyarakat. 


Kemarin, ada yang sambat. "Aku iki wes Ben Dino onok masalah, susah ae, tapi kok ya ga mudun-mudun berat badanku? Mbok ya mudunno, cek rodok kuruan."


"Enak ya? Tetep kurus, masio mangan opo ae." 


Loh ya. Mereka yang gemuk malah ingin kurus. Dan rasa kurang bahagia, tidak lantas membuat berat badannya menurun. 


Bagiku, yang penting seger waras, sehat wal Afiat. Gemuk, kurus ada nikmatnya masing-masing.


Jadi, bagaimana bisa? Mereka mengukur kebahagiaan hanya dengan standar yang bahkan memiliki banyak variabel dan tidak akurat kebenarannya? 


Bisa jadi ia sedikit lebih kurus, karena memang porsi makannya kurang banyak (terbiasa makan sedikit), konsumsi air putihnya kurang, atau barangkali sudah dari Sononya (Gen keturunan) sementara kegiatan sebagai ibu rumah tangga dan wanita karir sekaligus, menjadi tanggung jawabnya. Belum dengan kebutuhan biologis yang juga membakar kalori. 


Lantas, kalian berprasangka, mulai mengarang cerita bahwa hidup pernikahan seperti itu kurang bahagia? 


Tidakkah kau pikir, bagaimana mereka menempa diri berkali-kali dengan tuduhan demikian. Menguatkan hati, menarik nafas dalam, menghempas, kemudian mencoba senantiasa tersenyum kembali. 


Yang jelas, aku percaya, Allah yang lebih tahu, Allah yang memiliki misteri dari segala. Bagaimanapun suratanNya, itulah yang terbaik. Bukan sesuatu yang dipandang 'begini seharusnya' 'begitu seharusnya'. 


Sudahi itu. Standar yang bersarang di pikiranmu. Jika bagimu tetap salah, simpan. Jika tidak bisa membahagiakan, setidaknya cukup doakan.

0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES