Masih Hidupkah? Part 2

Masih Hidupkah? Part 2

Masih Hidupkah? Part 2
Ku buka mata, menatap ke depan, gelap, tubuhku masih terhimpit, ah, berat, tapi aku tak bisa berkutik, sulit rasanya menggerakkan tubuh, pasrah, hanya itu yang tertanam di benak, ku lontarkan kembali pertanyaan, benarkah ini nyata? Rasanya masih saja seperti mimpi, aku nyaris tak percaya mengalami hal seperti ini. Dan entah bagaimana caranya, dengan mengerahkan segenap tenaga, kami bisa kembali berdiri, tentu dengan keadaan bus tetap miring, lega, Alhamdulillah, aku merasakan ada titik terang disana, insyaallah aku yakin Allah masih bermurah hati untuk menyelamatkan kami semua.

Tidak, ternyata tanganku hanya menggenggam handphone dan kue kondangan, ada yang hilang, ya, dompet berwarna merah berisi atm dan sedikit uangku hilang entah kemana, mungkin berada disela-sela kursi, ku longokkan kepala, mencoba menemukan, barangkali bisa mudah ku jangkau, sandalku, aku melihatnya, Alhamdulillah, bisa keluar dengan alas kaki, tapi dompet itu tetap tak ada, ah,  sudahlah, aku mulai putus asa, waktu kami tak banyak.

“Allahu akbar, allahu akbar, shollu alannabi Muhammad,”

Gemuruh takbir dan sholawat terus terdengar, aku terkejut saat teman-teman yang hampir mencapai kaca depan berteriak, suasana jadi riuh tak karuan. Ada apa? “mbak diam!” tak tahu suara siapa itu, yang jelas aku salut dengan kepeduliannya menenangkan orang lain disaat dirinya sendiri gusar, apa yang terjadi? Ku picingkan mata menatap ke depan setelah putus asa mencari dompet, hatiku  lunglai, pintunya tertindih, kami jatuh ke sebelah kiri, benar, tak ada pintu, jika di fikir-fikir, mau dari mana lagi kita keluar, satu-satunya jalan adalah dari kaca depan yang tebal itu. Matang, aku berimajinasi kami akan terjebak di dalam, bagaimana jika tiba-tiba busnya meledak? Ah, fikiranku benar-benar kalut.

“tenang mbak, tenang!” sela yang lain, di tengah kerisauan dan teriakan histeris, dengan segenap kekhawatiran, kami mengumpulkan tenaga untuk berteriak minta tolong dan menggendor-gendor apapun. Tujuannya hanya satu, agar kami semua bisa keluar, berharap ada bala bantuan yang datang.

Sinar harapan di hatiku perlahan berpendar, saat mendengar suara orang mendekat, hujan deras membahana di luar, sudah pasti mereka susah payah datang diterpa air langit, samar, aku bisa melihat kehadiran beberapa orang. Pak sopir adalah satu-satunya laki-laki di dalam bus, ia terlihat berusaha mencari sesuatu, aku hanya bisa menanti dan santer berdo’a, dalam teramat dalam, harapan kami semua, hanya selamat. Aku terkesiap melihat Sopir dengan sebuah benda di tangannya tiba-tiba berusaha memecahkan kaca depan bus, dan akhirnya berhasil, kaca depan itu terbuka lebar tanpa adanya serpihan, ku dengar dari kasak kusuk teman kaca depan bus memang kaca mika, jadi tidak akan berbahaya jika di pecahkan, Alhamdulillah, usaha pak Sopir yang sudah keriput itu tidak sia-sia, tenaganya tetap terjaga walau usianya sudah terlihat berkisar 60-an.

“Alhamdulillah,,,” teman-teman serempak mengucapkannya, akupun turut masuk dalam kekompakan kalimat syukur itu, tuhkan, semakin yakin Allah maha pemurah pasti akan menyelamatkan kami semua.

Satu persatu dari kami berjalan melalui sela-sela kursi, mengantri untuk segera keluar, aku sendiri tentu saja tidak sabar untuk segera beranjak dari bus yang mengkhawatirkan ini, aku melompat saat mendapat giliran, segera berlari menerobos hujan untuk mencapai tempat berteduh, ada sebuah bangunan di depan, katanya itu pabrik roti, dari sudut mata, samar aku bisa merasakan kehadiran beberapa orang, aku menoleh ke arah bus, orang-orang itu datang menghampiri teman-teman yang masih hendak keluar dari bus, mencoba menawarkan diri apa yang bisa dibantu. 

langkahku terhenti di bawah atap, aku berbalik arah dan langsung bersandar menghempaskan nafas lega, Alhamdulillah akhirnya aku bisa berteduh dan bebas dari bus yang tergolek disana. Ku tatap bus dari sini, masih terheran dengan apa yang baru saja terjadi, ujung-ujungnya hanya kalimat Alhamdulillah yang ingin ku lantunkan, setelah memastikan kami semua selamat, saat semua teman sudah berhasil keluar, mengosongi bus, perasaan lega bercampur syukur semakin meruang, selanjutnya pandanganku menyapu, mengiringi langkah teman-teman yang baru turun, tetes hujan dan gelapnya maghrib menyamarkan wajah mereka, penerangan yang ada sedikit membantu, sadar, ternyata aku seorang diri disini, yang lain berpencar, ada juga yang berkumpul, mereka sama-sama berteduh di bawah atap. Lihat, tapi kenapa teman-teman menangis? sebagian dari mereka mulai sibuk memencet nomer, menelpon, samar-samar ku dengar, dari teman yang tak terlalu jauh dari tempatku, ada yang mengadu pada orang tuanya, ada juga yang mengadu pada kekasihnya. Ku tatap hp, apakah aku juga perlu menelpon? tapi untuk apa? aku sudah merasa lega dengan keselamatan ini, oh iya, aku tahu kami perlu bala bantuan dari pesantren, kami perlu kendaraan untuk mengantarkan pulang. 

Ku pilih sebuah nomer, dan mulai menelponnya, ia adalah teman dekatku, tanpa babibu ku ceritakan padanya singkat, ia sempat terkejut, kali ini kami perlu bantuan bus untuk menjemput teman-teman santri,  rasa terkejutnya harus ditunda dulu, jawaban disana membuatku lega, katanya ia akan segera mencari bala bantuan. Aku menunggu. Kami semua menunggu. Berkali ku ucapkan kalimat tahmid, tak bisa ku ungkap rasa lega atas limpahan nikmat yang telah Allah luapkan, betapa mudah kekuasaanNya, memposisikan kami dalam keadaan seperti tadi, dan menyelamatkan kami. Jika bukan karena maha kasihNya bisa saja ruh kami sudah berada di alam lain.

Aku merasa tak perlu merapat pada mereka, sengaja, lebih memilih sendiri disini, bagiku kejadian barusan cukup menguras fikiran untuk menggali tabir hikmah, dengan mengalami hal tadi tabir kekuasaanNya semakin nyata, menerbitkan rasa cinta yang lebih mendalam, dan jiwa terasa semakin dekat karena kehadiranNya.

Pak Sopir datang menghampiri kami, bertanya apakah ada barang yang tertinggal di dalam, tentu saja, banyak handpone dan dompet yang terjatuh, milikku sendiri mungkin terselip entah dimana, mendengar jawaban ada beberapa dari kami yang kehilangan barangnya tiba-tiba Pak Sopir langsung bergegas, berbalik arah dan masuk kembali ke bus, spontan kami berteriak melarangnya masuk, khawatir terjadi apa-apa, tapi Sopir itu tak peduli dengan teriakan kami, melihatnya demikian, aku merasa iba, tergurat rasa sangat bersalah di wajahnya, ia lah yang nantinya menjadi sasaran untuk bertanggung jawab dengan keadaan ini, wajah sabar dan keriputnyalah yang semakin membuatku luluh tak tega, do'aku semoga saja ia tidak dicerca oleh orang-orang yang tak punya belas kasih, kami sudah merasa bersyukur selamat dari kejadian ini.

Guyuran dari langit semakin deras saja, aku tak tega melihat sopir tadi hilir mudik kembali ke arah kami untuk menyerahkan beberapa barang yang sudah ditemukannya, tapi ada untungnya juga sebagian merasa senang hpnya kembali, meski sebagian yang lain masih belum mendapatkan barangnya kembali.

Orang-orang itu, yang tadi mencoba membantu juga mengikuti langkah Pak Sopir, menanyakan barang kami, kemudian masuk ke bus untuk mencarikannya, Alhamdulillah, aku tak bisa menyimpan kegembiraan saat dompet berisi ATMku ditemukan, laki-laki muda itu segera menyerahkannya padaku. Tadi aku telah mengadu padanya, bahwa dompet warna merahku tertinggal di dalam, rupanya Allah menghendaki aku pulang tanpa kurang suatu apapun. Alhamdulillah, kenikmatan terasa begitu besar dan berarti saat seperti ini, semua ada hikmahnya bukan.

Deras hujan masih setia, kami semakin lega saat mobil dari pondok datang menjemput, sebagian dari kami naik angkutan umum yang ternyata lengang, yang kami butuhkan hanyalah segera sampai di Pesantren,  aku sendiri, mendapat bagian di mobil pesantren. 

↯ 

"dimana teman-teman yang lain, kok sepi?" tanya dosenku, saat melihat anak didiknya tidak seramai biasanya.
"kecelakaan pak, bus guling" 
Aku menoleh, melihat siapa yang bersuara, temanku Idris (nama samaran) yang baru saja antusias menjawab, dia belum tahu disini ada salah satu korbannya.

"Beritanya ada di Radar Bromo pak, hari ini." sambungnya.

"iya pak, saya termasuk korbannya, " 
Sahutku. Aku mulai bersuara. Mendengar pernyataan itu, semua teman-teman menoleh ke arahku termasuk dosenku yang sepertinya siap dengan 5W1H nya. Jadilah, acara perkuliahan diawali dengan acara presentasi Bus Guling dariku. 
 
Mereka terheran, karena aku masuk kuliah. Sementara teman-teman yang lain, pergi ke panti pijat dan berostirahat di rumahnya. Alhamdulillah, semua tentu tidak lepas dari limpahan rahmatNya, tak bisa dipungkiri, ada beberapa goresan kecil akibat kecelakaan itu, tak apa, aku yakin Allah akan segera menyembuhkannya. Karena ku yakin dengan kasih sayangNya.


4 komentar

2/27/2017

Wah, puitis sekali.. asyik bacanya 😊

Reply
avatar
2/27/2017

Ah biasa aja. Makasih :)

Reply
avatar
3/06/2017

asyik.. mbak maaf telat..

Reply
avatar
3/07/2017

Iyah gapapa :)

Reply
avatar


View MoreHOTTEST ARTICLES