“Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Allahu Akbar”
Apa
kau kira ini takbir yang dilantunkan untuk menyambut hari raya? Saat alam
bertasbih memuji kebesaranNya karena hari kemenangan telah tiba, saat
wajah-wajah cerah merasakan hadiah tak terkira setelah sebulan penuh berpuasa,
saat anak kecil berlari-lari senang memamerkan baju baru yang dibelikan oleh
orang tuanya, saat ibu-ibu sibuk menghidangkan makanan terlezat untuk menyambut
kedatangan kerabat atau saat manusia-manusia berkopyah dan bermukenah dengan
wajah penuh haru pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat hari raya. Bukan, kali
ini bukan itu, Lafadz itu menggaung di ruang penuh sesak, suara penuh
kecemasan, ketakutan, kesedihan, bercampur menghasilkan irama yang beralun
mencekam.
“Shollallahu ala Muhamad,
Shollallahu ala Muhammad”
Aku
tak sempat menjawab. Dari mana asalnya, akupun tak peduli, suara yang terdengar
berat, seperti penuh dengan kekhawatiran, puluhan gadis berjilbab itu begitu
sibuk dengan cara masing-masing memanggil asmaNya, menunjukkan kebutuhan
terdasar yang tak pernah di duga, bahkan kerap kali terabaikan. Allah, disaat
genting seperti inilah, kami benar-benar sadar betapa dzolimnya ingatan dan
fikiran yang selalu teralihkan dari berdzikir, betapa dekatnya Engkau,
betapa butuhnya kami terhadap kasih sayangMu yang luas, betapa kerdilnya kami,
betapa kami berlumur dosa telah mengabaikan Engkau berulang kali. Betapa,, ah,
betapa takutnya kami menghadapMu tanpa persiapan, betapa cemasnya kami
menghadapi dimensi lain yang Kau suguhkan.
Ku sadari, betapa gemetarnya seluruh tubuh, bibirku turut sibuk memanggil asmaNya.
Ku sadari, betapa gemetarnya seluruh tubuh, bibirku turut sibuk memanggil asmaNya.
“Shollallahu alaih” sayup-sayup
ku dengar suara yang menjawab dengan parau dan tertatih, satu, dua orang mulai
menjerit bercampur tangis ketakutan.
“Allah, Allah, Allah,,,” Ku
hujamkan dalam-dalam asma teragung itu penuh harap, pasrah semakin
meruang dalam fikiran. Suara yang keluar terbungkus oleh suara-suara yang lebih parau dan ketakutan, bayangan itu datang, siapa yang mengundang, aku hanya khawatir jika hari ini memang hari
terakhirku di dunia. Aku harap, menghadapNya dalam keadaan Husnul Khotimah.
Langit kembali menangis, aku dan puluhan teman yang lain berlari cepat menuju bus, menghindari guyuran air hujan semampunya, kami akan kembali ke pesantren, bus hanya beberapa meter di depan, namun tetap saja, tidak akan nyaman membiarkan hujan leluasa membasahi seluruh baju kami.
Satu persatu anak memenuhi bangku bus, masih tetap seperti posisi semula, sama dengan waktu berangkat, duduk disamping siapa dan disebelah mana, kami sudah hafal betul tempatnya, aku sendiri duduk tak jauh dari pintu, di sebelah Iba (nama samaran), melihatnya sudah duduk manis disamping kaca bus, aku langsung menghambur lega disampingnya, membenarkan posisi duduk dan menyandarkan tubuh, ku lirik layar hp, ada sebuah sms, sebagian dari kami tampak menggigil, sekaligus lega setelah berhasil memasuki bus. Oh ya, kami baru saja menghadiri pernikahan teman di daerah Gempol, dia teman satu kelasku.
Bus mulai melaju pelan, ku sandarkan punggung pada kursi, lupa, baru saja ada sms, sejurus kemudian ku lancarkan balasan, gemuruh di langit mengiringi perjalanan, kami belum sempat melaksanakan sholat maghrib, tadi terburu-buru, semoga saja dapat melaksanakan sholat di pesantren, cuaca begitu kelam, padahal masih setengah enam, tak heran hujan di luar begitu deras menghujam bumi.
Sesekali pak sopir yang sudah beruban itu mengelap kaca depan bus yang berulang mengembun, tak ada alat yang mengelapnya otomatis, sepintas aku merasa cemas dengan keadaan demikian, swipernya tak berfungsi, padahal tetes air di luar semakin menjadi, “ mengelap sambil mengendarai, semoga saja tak terjadi apa-apa,” batinku.
Beberapa teman, berdiri di tengah-tengah, bersandar pada kursi disampingnya, sambil menatap keluar kaca, mereka tidak mendapat bagian duduk, Alhamdulillah meski duduk saling menghimpit nasibku masih lebih beruntung, ku pejamkan mata, saat tiba-tiba getar hp mengagetkan, ah, lagi-lagi kami ada masalah, lelah, tapi bagaimana lagi sms yang dikirim oleh orang khusus ini mengglitik hati untuk tetap melayaninya sampai tuntas, jadilah sepanjang perjalanan fikiran sibuk oleh dorongan merangkai kata. Padahal, ada satu hal yang terlupa, sesuatu yang biasa ku amalkan.
Aku tertunduk menatap layar hp, masih sibuk berfikir untuk membalas pesan dari teman dekatku, belum sempat sms terkirim, sebuah benturan tak bisa dihindari membuatku serasa bermimpi, bagaimana bisa? ini benar-benar nyata, aku mengalaminya, ya, bus kami oleng, seperti peristiwa di koran-koran, teman-teman tumpah, rubuh ke sebelah kiri,“Allah, allahu akbar” asmaNya dengan ajaib bergemuruh, aku tertindih dan menindih, posisiku di tengah-tengah "Allah,, " seru suara lain memuat ketakutan. Siapa yang menduga? jika bus yang kami tumpangi jadi seperti ini? ku telusuri arti diri, mengintrospeksi apa saja yang telah ku lakukan tadi, Astaghfirullahal adzim, hp telah membuatku lalai untuk selalu bersholawat dalam perjalanan, ini bukan perkara menyalahkan hal itu, atau menyatakan itulah penyebabnya, bukan, tapi aku benar-benar menyesal telah lalai menyebut asmaNya, jika begini, bagaimana cara untuk meminta ampunan, waktu menjadi begitu sempit dan penuh penyesalan, Allah, hanya Ia yang menghuni fikiran, berbagai praduga mengancam berlangsungnya hidup, aku merasa harus siap jika memang pada saat itu pula Ilahi memanggil, mesin mungkin belum mati, kilat-kilat bayang kemungkinan langsung berisyarat pada akhir sebuah hayat. Mataku terpejam, aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
***
Langit kembali menangis, aku dan puluhan teman yang lain berlari cepat menuju bus, menghindari guyuran air hujan semampunya, kami akan kembali ke pesantren, bus hanya beberapa meter di depan, namun tetap saja, tidak akan nyaman membiarkan hujan leluasa membasahi seluruh baju kami.
Satu persatu anak memenuhi bangku bus, masih tetap seperti posisi semula, sama dengan waktu berangkat, duduk disamping siapa dan disebelah mana, kami sudah hafal betul tempatnya, aku sendiri duduk tak jauh dari pintu, di sebelah Iba (nama samaran), melihatnya sudah duduk manis disamping kaca bus, aku langsung menghambur lega disampingnya, membenarkan posisi duduk dan menyandarkan tubuh, ku lirik layar hp, ada sebuah sms, sebagian dari kami tampak menggigil, sekaligus lega setelah berhasil memasuki bus. Oh ya, kami baru saja menghadiri pernikahan teman di daerah Gempol, dia teman satu kelasku.
Bus mulai melaju pelan, ku sandarkan punggung pada kursi, lupa, baru saja ada sms, sejurus kemudian ku lancarkan balasan, gemuruh di langit mengiringi perjalanan, kami belum sempat melaksanakan sholat maghrib, tadi terburu-buru, semoga saja dapat melaksanakan sholat di pesantren, cuaca begitu kelam, padahal masih setengah enam, tak heran hujan di luar begitu deras menghujam bumi.
Sesekali pak sopir yang sudah beruban itu mengelap kaca depan bus yang berulang mengembun, tak ada alat yang mengelapnya otomatis, sepintas aku merasa cemas dengan keadaan demikian, swipernya tak berfungsi, padahal tetes air di luar semakin menjadi, “ mengelap sambil mengendarai, semoga saja tak terjadi apa-apa,” batinku.
Beberapa teman, berdiri di tengah-tengah, bersandar pada kursi disampingnya, sambil menatap keluar kaca, mereka tidak mendapat bagian duduk, Alhamdulillah meski duduk saling menghimpit nasibku masih lebih beruntung, ku pejamkan mata, saat tiba-tiba getar hp mengagetkan, ah, lagi-lagi kami ada masalah, lelah, tapi bagaimana lagi sms yang dikirim oleh orang khusus ini mengglitik hati untuk tetap melayaninya sampai tuntas, jadilah sepanjang perjalanan fikiran sibuk oleh dorongan merangkai kata. Padahal, ada satu hal yang terlupa, sesuatu yang biasa ku amalkan.
Aku tertunduk menatap layar hp, masih sibuk berfikir untuk membalas pesan dari teman dekatku, belum sempat sms terkirim, sebuah benturan tak bisa dihindari membuatku serasa bermimpi, bagaimana bisa? ini benar-benar nyata, aku mengalaminya, ya, bus kami oleng, seperti peristiwa di koran-koran, teman-teman tumpah, rubuh ke sebelah kiri,“Allah, allahu akbar” asmaNya dengan ajaib bergemuruh, aku tertindih dan menindih, posisiku di tengah-tengah "Allah,, " seru suara lain memuat ketakutan. Siapa yang menduga? jika bus yang kami tumpangi jadi seperti ini? ku telusuri arti diri, mengintrospeksi apa saja yang telah ku lakukan tadi, Astaghfirullahal adzim, hp telah membuatku lalai untuk selalu bersholawat dalam perjalanan, ini bukan perkara menyalahkan hal itu, atau menyatakan itulah penyebabnya, bukan, tapi aku benar-benar menyesal telah lalai menyebut asmaNya, jika begini, bagaimana cara untuk meminta ampunan, waktu menjadi begitu sempit dan penuh penyesalan, Allah, hanya Ia yang menghuni fikiran, berbagai praduga mengancam berlangsungnya hidup, aku merasa harus siap jika memang pada saat itu pula Ilahi memanggil, mesin mungkin belum mati, kilat-kilat bayang kemungkinan langsung berisyarat pada akhir sebuah hayat. Mataku terpejam, aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

6 komentar
Bagus mba artikelnya, saya share ya
ReplyBagus mba artikelnya, saya share ya
ReplyIya Silahkan. dengan senang hati :)
ReplyIzin Bookmark mbak. Nanti saya baca
ReplyOh iya silahkan :)
Replyiya silahkan :)
Reply